Dari Ternate, Cinta Berlabuh dalam Puisi

Edy Gustan
.
Jum'at, 02 September 2022 | 06:42 WIB
Buku kumpulan puisi "Pesan Tuan dari Ternate". Foto: mataram.iNews.id/Mya Arin

MATARAM, iNewsMataram.id - Buku kumpulan puisi “Pesan Tuan dari Ternate” memuat 60 puisi. Penulis bernama pena Mya Arin, kelahiran Jakarta yang kini menetap di Mataram, ini mempersembahkan puisi-puisi itu untuk suami tercinta, Edy Gustan.

Kado spesial untuk kebersamaan mereka selama ini. Salah satu puisi yang menjadi judul buku memuat kisah tentang bagaimana penulis menerima sebuah pesan, saat kekasih yang kelak jadi suaminya, tengah liputan ke Ternate, Maluku. Pesan itu dikirim beserta foto masjid terapung Ternate, Masjid Al Munawar.

Pesan Tuan dari Ternate

Tuan mengirim rindu Lewat pesan dari Ternate Di antara pilar-pilar masjid terapung

Cinta terkirim lewat kata

Tuan bicara dalam layar mini : Aku mencintaimu. Hiduplah bersamaku

Nona di ujung sana tersipu manja dan malu-malu : Aku juga. Mari kita menua bersama

Tuan mengirim pesan kepada Nona

Tentang sajak bahagia dari Ternate

Mataram, Juli 2020

 

Pemilihan diksi yang sederhana membuat puisi ini jelas menggambarkan kisah pesan yang dikirim dengan manis.

Mya Arin mampu membuat penikmat puisi membayangkan awal ia dan suami menjalin hubungan.

Puisi-puisi dalam buku “Pesan Tuan dari Ternate” berisi tentang cinta dan rindu, juga perjuangan dalam pernikahan.

Salah satunya ada dalam puisi tentang penantian yang tak pernah usai hingga menjadi rindu yang membuncah. Penulis membuat puisi rindu saat ia dan kekasih berjauhan, saat mereka menjalin hubungan antara Jakarta dan Mataram.

 

Candu Rindu

Juni menyapa penuh air mata meletup-letup

Ketika perih menyelusup

Lalu bergerak bagai maut

Aku tersudut

Cintakah aku? Atau sekadar cemas

Lalu terempas dalam sebentuk rindu?

Tuhan boleh saja bercanda denganku

Tapi, tidak dengan kamu

Yang hampir setiap waktu menghunjamku

Lewat candu rindu

Tapi, kita tetap membisu

Rindukah kamu?

Aku menunggu

Dalam jendela percakapan semu

 

Jakarta, November 2010

 

Ibu rumah tangga dengan dua anak dan pernah kuliah di jurusan Sastra Indonesia, Universitas Padjadjaran, Bandung, ini juga pernah menjadi editor bahasa di dua koran nasional, Indopos dan Koran Sindo.

Di antara hiruk pikuk Jakarta, ia dan suami pernah punya kenangan tak terlupakan saat diantar pulang.

Penulis membuat puisi yang menggambarkan kejadian itu dan menjadi cerita hingga sekarang.

Bajaj Cinta

Tuan hendak mengantar Puan pulang

Motor melaju di antara lalu lalang kendaraan

Saat jam makan siang

Tuan menerobos dan menyalip mobil-mobil di perempatan lampu merah

Sayang, motor salah arah

Di belakang bajaj, motor Tuan tiba-tiba tak terkendali

Hingga akhirnya kaki Puan tersangkut di besi bajaj yang berhenti

Krek, bunyi daging terkelupas

Tuan panik

Tak ada darah di luka Puan

Tapi, saat dilakukan pertolongan

Tujuh jahitan menghiasi bawah lutut Puan

Ah, bajaj penuh kenangan

Dari kisah cinta Puan dan Tuan

Seru bukan?

Mataram, Agustus 2020

 

Beberapa penulis juga membuat ulasan tentang kumpulan puisi yang tengah dipasarkan ke seluruh Indonesia tersebut.

Pengajar Sastra Indonesia di FIB, Unpad, dan Ketua Dewan Pertimbangan Forum Lingkar Pena Mochamad Irfan Hidayatullah mengatakan bahwa sajak-sajak tentang cinta takpernah berhenti diproduksi, termasuk oleh seorang Mya Arin.

Spesialnya sekumpulan sajak cinta ini seolah memiliki "tokoh" tetap, yaitu Puan dan Tuan. Ini bisa sebentuk panggilan atau bisa juga dibaca semacam kontestasi gender.

“Sang Puan menggugat berbagai stereotip tentang dirinya kepada sang Tuan. Andai saja seluruh puisi ini dibentuk menjadi puisi naratif yang beralur dan berkonflik tentang sepasang kekasih yang mengarungi kehidupan bersama, akan lebih menarik lagi. Selain itu, latar Indonesia Timur dan pantai bisa jadi kekuatan utama lainnya,” tandasnya.

Topik Mulyana, dosen Bahasa Indonesia, Universitas Katolik Parahyangan, dan Staf Litbang Badan Pengurus Pusat FLP menambahkan, sebagai bahasa yang bersumber dari intuisi, sedikit-banyak puisi mampu menggambarkan perasaan-perasaan itu, meski tentu penggambaran itu tidak akan pernah tuntas. Puisi-puisi dalam buku ini pun demikian.

“Cinta, rindu, cemburu, juga kesepian merupakan perasaan misterius yang kerapkali menjadi motivasi manusia untuk melakukan hal-hal menakjubkan dan menggelikan. Bahasa logis-rasional takmampu merepresentasikan perasaan-perasaan itu sebab cinta berada di wilayah intuitif-irasional,” ungkapnya.

Sementara itu, sahabat penulis, Shabrina WS, yang merupakan penulis novel terkenal Indonesia, menyatakan bahwa dalam buku puisi ini menggambarkan cinta yang bukan hanya tentang puja serta tawa. Kadang jarak, sesekali selisih paham juga tertuang di dalamnya.

“Sepasang kekasih selalu punya cara untuk bicara dan menemukan. Itu yang digambarkan Mya Arin dalam puisi-puisinya, “ ujarnya.

Sejak remaja, Mya Arin memang senang menulis puisi dan kini tengah belajar menulis cerita berbagai macam genre.

Beberapa cerpen dan puisinya yang dibukukan dalam antologi menambah deretan pengakuan karyanya untuk kemajuan literasi Indonesia.

Salah satunya antologi “More Than Just a Romance” bersama 39 penulis perempuan yang tergabung dalam komunitas FORSEN.

Jika ingin mengenalnya, kalian bisa mengakses media sosial FB Mya Arin atau IG @mya.arin. (*)

Editor : Maryani
Bagikan Artikel Ini