Pandemi, Buku Ini Justru Best Seller

Edy Gustan
.
Jum'at, 26 Agustus 2022 | 09:12 WIB
Salah satu buku best seller yang tengah cetak ulang. Foto: Novel/istimewa

Mataram.iNews.id-Siapa bilang pandemi membuat orang tidak bisa berkarya? Justru, saat pendemilah, pria bernama asli Maulana Rosihan Islam ini jadi penulis best seller.

Dengan memakai nama pena Rochy Mario Djafis, ia menemukan passion yang selama ini terpendam. Kota Mataram yang turut terkena lockdown saat pandemi COVID-19 lalu itu membuat ia tak kehabisan akal mengisi waktunya.

“Saat lockdown 14 hari di Mataram, saya otomatis berhenti mengajar sementara. Saat itulah, saya mulai serius menulis,” ujarnya kepada iNewsMataram.id.

Bermodalkan pengalaman bertualang dan pengetahuannya tentang kaidah dasar menulis, Bang Ochy—sapaan akrab—pun menuangkannya dalam bentuk cerita novel.

Saat itulah, ia memberanikan diri mempublikasikan tulisannya di sebuah laman menulis Facebook. Ia tak menyangka respons pembaca sangat luar biasa. Cerita bersambung pertama yang ia tulis berkisah tentang pendakian jalur selatan Rinjani.

Kisah petualangan misteri tersebut memikat beberapa penerbit indie. Ia pun menerima pinangan salah satu penerbit. Buku berjudul sama seperti kisahnya, “Pendakian Jalur Selatan Rinjani”, itu terjual ribuan eksemplar.

“Saya tak menyangka kisah petualangan saya yang diramu menjadi kisah fiksi mampu memikat pembaca. Akhirnya, saya serius menulis hingga saat ini. Selain mengisi waktu luang, juga bisa menghasilkan uang,” katanya sambil tertawa.

Dari situlah, ia mulai menekuni dunia literasi. Hingga saat ini, sudah lima novel yang ia tulis, yakni “Pendakian Jalur Selatan Rinjani”, “Pendakian Jalur Sembalun Rinjani”, “Tumbal Leak”, “Pak Karto”, dan “Kulepas Suamiku; Talak di Tepi Jalan”.

Saat ditanya tentang kendala dan kesulitannya dalam menulis, Bang Ochy menjelaskan gamblang perihal kendala internal dan eksternal yang sering dialami penulis.

“Kadang, kalau ada suara-suara bising, konsentrasi saya suka terganggu. Apalagi kalau pas lagi dapat ide, bisa buyar semua. Mood yang naik-turun juga bisa mengganggu pas ide muncul. Makanya, saya langsung catat saat ide muncul. Istilahnya, diamankan sementara,” paparnya.

Salah satu cara agar kendala itu bisa diminimalisasi, ia biasanya menonton, berselancar di sosial media dan menyapa pembaca, atau berjalan-jalan dengan keluarga.

Dari kelima novel yang ia tulis, empat novel bergenre petualangan misteri dan satu novel berkisah tentang romansa. Saat ini, novel-novel itu masih cetak ulang, termasuk novel pertama berjudul “Pendakian Jalur Selatan Rinjani”, yang mendapat tambahan bab baru.

“Saya ingin para penggemar tak lagi bertanya-tanya tentang kisah salah satu tokoh dalam novel tersebut. Jadi, mereka bisa kembali memiliki novel lama rasa baru,” tandasnya. (*)

Editor : Edy Gustan
Bagikan Artikel Ini